Satu tetap satu…
Tapi kenapa dua,
Akhirnya menjadi satu… ??
Kadang Aku tak mengerti apa yang Aku pikirkan
Tapi Aku tau apa yang Aku rasakan
Kertas putih dan pena
Teman Aku bercerita
Cahaya maha cahaya
akan tersedot
oleh sebuah kegelapan kecil
yang sederhana.
Demikianlah kegempitaan
akan hilang
dalam kesunyian.
Terhapuslah seluruh warna
terhapuslah seluruh kata
terhapuslah seluruh kita
terserap dalam kegelapan
yang menghapuskan duka lara.
Kegelapan agung,
akan segera datang,
menjemput sang jagad
beserta pemiliknya.
Sang gelap
datang karena
cahaya
telah berbohong
dengan mencari kegemilangan
yang abadi.
Mimpi akan hilang
kenyataan akan hilang
tersaput oleh setitik
ke-tak-nyataan.
Aku selalu berteman dengan kemarahan
Dan Aku bermusuhan dengan api emosi
Tapi Aku bermuka dua antara
Benci dan dendam
Karena mereka semua adalah
Aku yang sedang membohongi hati
Api menjadi api,
Air menjadi air,
Garam menjadi garam,
Aku menjadi Aku,
Empat lahir dari empat,
Satu lahir dari satu,
Kosong, tak pernah kosong.
Kutanam benih di hamparan taman
Kurawat selalu dia
Kuperhatikan perkembangannya
Hingga tak sadar oleh waktu
Berkembanglah dia
Menjadi sekuntum mawar cantik
Senyum hati ini
Melihatnya menari-nari
Disentuh oleh angin
Dan menebarkan wangi tubuhnya
Akupun dibuatnya terlena
Oleh pikiranku sendiri
Kumpulan kumbang pun datang
Diundang oleh bisikan angin
Akan kemolekan sang mawar
Satu demi satu mencoba untuk mendekatinya
Melihat itu, sang mawar tersenyum bahagia
Tapi melihat itu semua Aku cemburu
Mawar itu hanya milikku
Karena Aku yang selama ini bersamanya
Kupetik dia, dan tangan ku terluka oleh durinya
Mawar itu menangis dan layu pergi meninggalkanku
Saat kubuka kedua mata ini
Satu sisi dari mata ada kebahagiaan
Sisi mata yang lain terekam kesedihan
Hingga air mata jatuh ke pipi
Luka hati yang menganga
Tersiram kembali oleh garam
Perih dan tersiksa
Karena sebuah penghianatan
Aku hanya manusia lemah
Yang rentan oleh kesalahan
Tapi bukan untuk disakiti
Karena Aku ingin dimengerti
Sisi kayu empat
Biasa, tapi…
Sangat berarti
Bagai sahabat
Meski disetiap siku
Tertancap paku
Untuk mengaitkan
Satu sama lain
Jika terkena membuat sakit
Hingga berdarah
Tapi akan menjadi kuat
Dan tetap bertahan
Kadang sahabat
Bisa membuat terluka
Tapi itu hanya sesaat
Dan akan menjadi bahagia
Itulah bingkai untuk sahabat
Satu sama lain saling terkait
Meski suatu saat
Harus pergi, Akan kusimpan dalam hati
Kenangan memiliki
Sahabat sejati
Bagai hujan yg melambangkan...
Kesedihan Tuhan melihat umatnya saling menderita.
Bagai Badai yg melambangkan...
Kemarahan Tuhan melihat umatnya saling merusak.
Bagai Suara Alam yg melambangkan...
Kebahagiaan Tuhan melihat umatnya saling merangkul.
Bagai Sinar Matahari yg melambangkan...
Kehangatan Pelukan Tuhan pada seluruh makhluk ciptaan-Nya.
Salahkah…
Jika pikiran kembali ke masa lalu
Tak bisa untuk dihindari
Bukan kehendak sendiri
Pergi…
Aku ingin lari
Tapi meninggalkan kekacauan
Jika harus berdiam diri
Akankah semua bisa terselesaikan..?
Don’t Run Away !